Beranda | Artikel
Mengapa Nabi Menyuruh Menghentikan Ibadah Sunnah Ketika Hati Lalai? Ini Penjelasannya
8 jam lalu

Para ulama juga mengambil faedah dari hadis ini, bahwa yang disyariatkan bagi seorang Mukmin dalam perkara ibadah-ibadah sunnah adalah melaksanakannya sesuai dengan kadar kemampuannya, yakni amalan yang dapat ia lakukan dengan semangat, serta yang dapat dihayati oleh hatinya.

Yang disyariatkan bagi seorang Muslim dalam ibadah-ibadah sunnah ialah mengamalkannya sesuai dengan kemampuannya, dan yang dapat dirinya kerjakan dengan semangat, serta tidak membuat dirinya bosan. Namun, tidak diragukan bahwa ia juga harus membiasakan diri untuk berbuat baik, tapi tidak sampai membuat dirinya bosan, serta melaksanakan ibadah sunnah yang dapat dihayati oleh hatinya.

Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis ini memerintahkan–ketika hati telah lalai–agar menghentikan ibadah sunnah tersebut. Ini berdasarkan pendapat bahwa yang dimaksud dalam hadis ini hanya Shalat Malam saja. Para ulama juga mengambil faedah lain dari hadis ini, bahwa seorang Muslim hendaknya memperhatikan dirinya, tanpa meninggalkan ibadah wajib atau melakukan perbuatan haram. Suatu hal yang disyariatkan bagi seorang Muslim, membuat dirinya tetap nyaman beribadah dan tidak membebaninya terlalu berat. Namun dengan batas tidak meninggalkan ibadah wajib, atau melakukan perbuatan haram.

Saya pernah mendengar guru kami, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, dalam penjelasannya atas Shahih Al-Bukhari, beliau mengatakan, “Wajib bagi seseorang untuk membuat dirinya nyaman beribadah, tanpa meninggalkan ibadah wajib.” Namun, kami menyampaikannya dengan redaksi: yang disyariatkan adalah, membuat dirinya tetap nyaman dalam beribadah tanpa meninggalkan ibadah wajib, atau melakukan perbuatan haram, atau juga malas dalam meraih keutamaan.

Karena mungkin akan ada yang berkata: “Kalau begitu disyariatkan bagiku untuk bermalas-malasan. Jadi untuk apa pergi ke majelis ilmu di masjid?” “Mending aku tidur, karena aku sudah rutin pergi kuliah.” “Jadi, aku akan beristirahat dan tidur hingga maghrib.” Tidak seperti itu. Yang dimaksud adalah tanpa meninggalkan ibadah wajib, tanpa mengerjakan perbuatan haram, dan tidak juga malas mengejar amalan yang utama. Juga tanpa malas mengejar amalan yang utama.

Adapun jika badannya sudah lelah sekali atau semisalnya, maka ketentuannya sebagaimana yang telah kami jelaskan dalam hadis ini.

=====

كَمَا أَخَذَ العُلَمَاءُ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ الْمَشْرُوعَ لِلْمُؤْمِنِ فِي بَابِ النَّوَافِلِ أَنْ يَأْخُذَ بِمَا يُطِيقُ وَمَا تَنْشَطُ لَهُ نَفْسُهُ وَمَا يَحْضُرُ فِيْهِ قَلْبُهُ

أَنَّ الْمَشْرُوعَ لِلْمُسْلِمِ فِي بَابِ النَّوَافِلِ أَنْ يَأْخُذَ بِمَا يُطِيقُ وَمَا تَنْشَطُ لَهُ نَفْسُهُ مَا يُمِلُّ نَفْسَهُ لَكِنْ لَا شَكَّ يُعَوِّدُهَا عَلَى الْخَيْرِ لَكِنْ مَا يُمِلُّ نَفْسَهُ وَيَأْخُذُ مِنَ النَّوَافِلِ مَا يَحْضُرُ فِيهِ قَلْبُهُ

فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ هُنَا عِنْدَ غَفْلَةِ القَلْبِ بِقَطْعِ هَذِهِ النَّافِلَةِ عَلَى الْقَوْلِ بِأَنَّهَا صَلَاةُ اللَّيْلِ فَقَطْ كَمَا أَخَذَ العُلَمَاءُ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَنْ يَحْرِصَ الْمُسْلِمُ عَلَى رَاحَةِ نَفْسِهِ بِدُونِ تَرْكِ وَاجِبٍ أَوْ فِعْلِ حَرَامٍ مِنَ الْمَشْرُوعِ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يُرِيحَ نَفْسَهُ وَأَلَّا يُثْقِلَهَا لَكِنْ بِغَيْرِ تَرْكِ وَاجِبٍ وَلَا فِعْلِ حَرَامٍ

وَقَدْ سَمِعْتُ شَيْخَنَا الشَّيْخَ ابْنَ عُثَيْمِينَ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي شَرْحِهِ عَلَى صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ يَقُولُ يَجِبُ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يُرِيحَ نَفْسَهُ مِنْ غَيْرِ تَرْكِ وَاجِبٍ لَكِنْ نَحْنُ نَقُولُ الْمَشْرُوعَ أَنْ يُرِيحَ نَفْسَهُ مِنْ غَيْرِ تَرْكِ وَاجِبٍ وَلَا فِعْلِ حَرَامٍ وَلَا كَسَلٍ عَنْ فَضِيلَةٍ

لِأَنَّهُ قَدْ يَأْتِي إِنْسَانٌ يَقُولُ وَاللَّهِ إِذًا المَشْرُوعُ إِنِّي إِذًا لِمَاذَا أَذْهَبُ إِلَى الْحَلِقَاتِ؟ أَنَامُ أَنَا أُدَاوِمُ فِي الْكُلِّيَّةِ فَأُرِيحُ نَفْسِي وَأَنَامُ إِلَى الْمَغْرِبِ لَا مِنْ غَيْرِ تَرْكِ وَاجِبٍ وَلَا فِعْلِ حَرَامٍ وَلَا كَسَلٍ عَنْ فَضِيلَةٍ وَلَا كَسَلٍ عَنْ فَضِيلَةٍ

أَمَّا إِذَا غَلَبَ عَلَيْهِ التَّعَبُ وَنَحْوُ ذَلِكَ فَالأَمْرُ كَمَا ذَكَرْنَا فِي هَذَا الْحَدِيثِ


Artikel asli: https://nasehat.net/mengapa-nabi-menyuruh-menghentikan-ibadah-sunnah-ketika-hati-lalai-ini-penjelasannya/